Pantai Drini : Hamparan Karang di Pesisir Gunung Kidul

20140612153453

Sebagai seseorang yang sehari-hari didepan komputer seperti gue, refreshing atau sekedar nyari udara segar diluar tentu sangat perlu, selain buat cari inspirasi juga menjaga kesehatan. Berlama-lama depan komputer ternyata banyak banget bahayanya, seperti gampang sakit punggung, resiko diabetes, nyeri leher, gampang jomblo dan lain sebagainya. Karenanya bagi temen-temen yang kerjaannya tiap hari kayak gue mantengin komputer, sesekali beralihlah dari tempat duduk buat nyari udara segar. Yang penting sendi-sendi serta badan digerakin minimal 2 jam sekali. Kalau perlu sekali-kali carilah hiburan, murah tetapi menyenangkan seperti jalan-jalan ke pantai atau tempat rekreasi lainnya. Begitupun gue, kalau udah ngerasa suntuk banget sama kerjaan depan komputer biasanya suka nyempetin diri gabung sama temen-temen kos buat sekedar main kartu atau nongkrong-nongkrong di kafe terdekat.

Seperti malem-malem lainnya, abis maghrib biasanya kami nongkrong sambil makan di angkringan depan kosan. Bicara atau bercanda ngalong-ngidulpun dimulai seperti biasanya. Sampai topiknya meruncing ngomongin jalan-jalan. Kami pikir udah lama nih gak jalan-jalan nyari udara segar ke tempat yang agak jauh, dipilihlah pantai atau gunung sebagai tujuan. Karena enggak pengen ribet sama persiapan akhirnya diputuskan pantai sebagai tujuan wisata kami.

Malemnya ngerencanain, paginya kami berangkat. Rencana berangkat pukul sembilanpun harus delay 2 jam karena nunggu salah satu temen yang emang suka ngaret (termasuk gue juga sih). Total yang berangkat ada 8 orang, boncengan jadi 4 motor, pas mau berangkat ada satu hal yang sangat krusial yang kami lupakan : “Kita mau ke Pantai mana ?”. Berhubung pantai di provinsi Jogja lumayan banyak, kami sempat mikir sejenak hingga akhirnya diputuskan ke pantai yang bisa buat berenang. Gue sebenernya agak ragu “emangnya ada pantai di jogja yang bisa dipakai buat berenang ?” soalnya sepengetahuan gue pantai-pantainya itu kayak langsung palung, enggak ada datarannya seperti pangandaran atau pantai lainnya. Berhubung salah satu temen gue ada orang asli jogjanya, gue manut aja pas dia bilang “Drini bisa buat berenang juga kok“. Well, akhirnya Panati Drini menjadi next destination kami.

Perjalananpun dimulai, sekitar jam 11 kami berangkat menggunakan sepeda motor dari jogja ke gunung kidul, tempat pantai Drini berada. Rutenya cukup mudah, dari bukit bintang lurus aja terus, nanti juga banyak plang yang ngarahin kita ke gunung kidul via wonosari. Dengan menggunakan sepeda motor, waktu tempuh perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam tanpa berhenti dan dengan keadaan lalu lintas lancar. Memasuki jalan menuju pantaipun intensitas kendaraan terbilang sangat sepi, hanya satu dua kendaraan penduduk yang pulang pergi mengangkut hasil tani, karena memang kami waktu itu berangkat hari rabu yang notabene bukan hari libur. Kalau diperhatikan, jalan menuju pantai Drini masih sejuk dan asri. Disepanjang jalan kita disuguhi pemandangan hijaunya sawah atau sejuknya pepohonan yang akan jarang sekali kita temui disetiap ruas jalan di kota Jogja saat ini.

Kamipun hampir tiba ke lokasi wisata pantai Drini, namun dari 8 kilometer sebelumnya kami sudah dicegat petugas karcis untuk membayar tiket masuk. Tiap orang dibebani harga tiket sebesar Rp. 10.000, tiket tersebut bisa digunakan sebagai tiket masuk ke semua pantai yang berada di pinggiran pantai gunung kidul. Cukup masuk akal sih dengan harga segitu, kita bisa dengan bebas menikmati kekayaan laut Gunung Kidul yang masih jarang dikunjungi para wisatawan.

Voila! Kamipun tiba di Pantai Drini, pemandangannya indah namun sepi. Terlihat hamparan karang tertutup air surut yang berkilau memantulkan cahaya mentari tengah hari. Disebelahnya mengapung sebuah bongkahan karang kokoh menjulang membelah pantai menjadi dua bagian. Ah, tenang sekali pikir gue. Suara gemuruh ombak terdengar sayup-sayup sunyi, seketika menenggelamkan penat dan gemuruh suara bising ibu kota yang saban hari gue saksikan. Kamipun berteduh di tenda sekitar sambil meneguk segarnya air kelapa muda yang dibeli dari masyarakat setempat. Belum ada yang berani menapaki indahnya pantai Drini, suhu tengah hari pantai sementara menahan rasa penasaran kami bahkan untuk menyentuh air lautnya saja. Termasuk gue yang masih bertanya-tanya dalam hati : “tempat berenangnya sebelah mana nih, kok gak ada orang yang main air..“.

Entah sok atau memang gak sabar, satu dari kami memberanikan diri membuncah air laut pantai Drini bertelanjang kaki menusuri hangatnya pasir pesisir. Sontak kamipun tercambuk untuk melakukan hal yang serupa, berkeliling melihat-lihat keindahan laut sekitar.

Misteripun terungkap, menurut pengakuan teman gue kita boleh berenang di air yang sedang kita injaki itu. What ? hanya setinggi mata kaki ?. “Ya harus nunggu pasang dulu biar airnya tinggi..“. Sambungnya lagi. Well, sedikit kecewa, tapi itulah kenyataannya. Kekecewaan kami terobati dengan banyaknya ikan-ikan yang berenang disekeliling wilayah karang. Kami berusaha menangkap ikan-ikat tersebut, sayangnya di sekitar pantai enggak ada jasa penyewaan alat buat nangkap ikan. Salah satu teman gue berinisiatif menggunakan bajunya sebagai media penangkap ikan. Awalnya kami menyangka itu akan efektif, kenyataan dilapangan lain. Sangat susah dan useless. Selain banyak ikan-ikan kecil, di sekitar karang juga banyak ditemukan bintang laut dan binatang gak bertulang belakang lainnya yang setiap kami berjalan melewati karang pasti keinjak saking banyaknya.

Berjam-jam sudah kami bermain dengan hewan-hewan tersebut, kamipun merapatkan diri meninggalkan gerak gemulai ikan yang tak kunjung kami dapatkan menuju pinggir-pinggir pantai. Sesekali kami membaringkan diri dihamparan karang. Airnya hangat, tanda mentari belum mau mengakhiri hari. Masih sepi, dan sepertinya hanya kami yang dan beberapa pengunjung lain yang asyik dengan gemercik air. Terlihat semakin siang semakin banyak pengunjung memenuhi tenda-tenda peristirahatan.

Dipinggiran pantai ternyata bukan hanya ikan-ikan kecil saja yang kita temukan, banyak sekali ditemukan keong atau umang-umang berukuran kecil sampai sedang disana. Kamipun menemukan mainan baru, balap umang! Go go!

Dan ini keasyikan kami bermain dengan umang-umang tersebut, seakan lupa kami sudah berkepala dua.

Hari mulai sore, sebelum terlalu sore kami puas-puasin bermain air disana. Berjalan lebih jauh, kami menemukan sebuah batu karang besar dengan tempat mirip selokan disekelilingnya. Tempat yang bagus untuk berendam. Daripada enggak ada sama sekali. ya kan.

Di ujung karang tersebut terdapat sebuah lubang yang menghubungkan ujung satu dengan ujung lainnya. Kamipun sepakat untuk membuat sebuah tantangan, yang gak bisa melewati lubang itu maka fix, dia copo! Beberapa dari kami ada yang berani mencoba, yang lainnya tidak. Gue harus bilang ini tantangan yang enggak penting banget. Tapi itulah hiburan, kita emang gak dapet apa-apa, seenggaknya kita bisa ketawa bareng-bareng, seneng bareng-bareng. Kalau Patrick Star bilang :

Aku hanya bertindak bodoh supaya kalian bahagia..“.

Meskipun lubangnya sempit, tapi teman gue yang badannya paling gede tetep aja bisa masuk. Entah apa motivasinya ngelakuin hal yang gak penting yang bisa ngebuat badannya nyelip diantara karang-karang. Mungkin udah passion nya dia sih.

Begitupun gue, terpancing untuk menaklukan tantangan ‘gak penting’ ini. Daripada mereka meragukan kejantanan serta kepiawayan gue dalam melakukan hal-hal gak penting, mending gue jabanin aja ini tantangan. Dan hasilnya sungguh membanggakan, gue akhirnya lolos juga. Yatta~

Hari udah semakin sore, misi terakhir kita adalah memeriksa pulau karang raksasa yang membagi pantai menjadi dua tersebut. Menurut penduduk setempat, Pantai ini dinamakan Pantai Drini karena diatas bukit karang tersebut terdapat banyak sekali pohon Drini. Dari atas kita bisa melihat pemandangan yang sangat menabjukan karya Sang Maha Semesta. Hamparan laut luas membiru terlentang horizon tanpa batas. Deburan ombak yang saling bercumbu dengan karang mengingatkan kita bahwa benda lentur seperti airpun bisa menjadi kuat saat bersama-sama dengan jenisnya. Kami takjub, ternyata kami enggak ada apa-apanya dibandingkan samudra ini, terkadang kami berfikir lantas untuk apa kami bersombong. Jika dibandingkan dengan milyaran kubik air laut ini, kami hanya setitik air mani hina yang berbentuk dan membesar seiring waktu.

Sebagai oleh-oleh terakhir, kamipun menyempaktkan diri untuk foto bersama. Sebagai kenang-kenangan bahwa kami pernah mengalami pengalaman yang menyenangkan bareng-bareng. Dan karena suatu saat gue pasti bakalan kangen masa-masa seperti ini, makannya gue berniat istiqomah nulis pengalaman lewat blog seperti ini. Kenangan emang gak bakal hilang, namun manusia adalah tempat lupa. Bukankah saat tua nanti yang kita ingin ingat adalah masa-masa yang menyenangkan ?

 


Related Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *