Gunung Andong dan Harmonisme Perspektif

DSC00680

Sebagai orang asli dan lahir di daerah pegunungan, gue merasa perlu sesekali menjelajahi keadaan alam yang bisa ngingetin sama kampung halaman. Gue pribadi bukan orang yang suka ngerencanain buat pergi ke suatu tempat ngajak main temen, gue malah lebih seneng diajak. Termasuk pengalaman yang satu ini, Fun Tracking naik gunung Andong beberapa bulan lalu, pun karena diajak. Tersebutlah salah satu temen yang memang hobinya naik gunung yang entah berapa pucuk gunung udah pernah dia daki, ngajakin buat tracking naik Gunung Andong. Sebelum ngambil keputusan iya apa enggak, sebagai seseorang yang udah lama kenal sama Google gue mencoba googling seluk beluk gunung ini biar lebih afdol sama bisa basa-basi nanti kalau ada yang nanya seputar gunung Andong. Biar keliatan pinter aja.

Gunung Andong adalah sebuah gunung bertipe perisai di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Gunung ini belum pernah mempunyai aktivitas meletus. Gunung Andong terletak di antara Ngablak dan Tlogorjo, Grabag dan berketinggian sekitar 1.463 m. Gunung Andong merupakan salah satu dari beberapa gunung yang melingkari Magelang. Berdampingan dengan gunung Telomoyo, gunung ini berada di perbatasan wilayah Salatiga, Semarang, dan Magelang. (sumber : Wikipedia).

Yep! akhirnya pilihan bulat, gue ikut. Setelah melihat referensi dari Wikipedia tingginya gak begitu tinggi amat, letaknya juga gak terlalu jauh dari Jogja. Bukan karena gue gak suka tantangan, yang jelas pas waktu itu kesehatan dompet lagi dalam keadaan sakarotul maut. Kalau pengeluaran gede bisa-bisa gue diet OCD sampai tanggal muda. Ambil sisi positifnya, meskipun dalam keadaan kere gue masih bisa tetep ikut jalan-jalan.

Singkat cerita, akhirnya kita sampai ke lokasi tujuan. Seperti biasanya perjalanan menggunakan sepeda motor rame-rame. Perjalanan memakan waktu sekitar 2,5 jam dengan keadaan jalan yang terus menanjak menuju lokasi. Sebagai rider abal-abal, gue ngerasa gagal saat itu. Baru inget ternyata si Jagur, motor matic kesayangan yang telah nyungsep dengan profesional beberapa kali belum sempet di service dan ganti oli. Alhasil pas nemu tanjakan si Jagur meden di kecepatan 20 KM/Jam. Yang gue khawatirkan justru bukan takut ditengah jalan si Jagur mogok,  yang gue khawatirkan nanti baliknya gimana, jalanannya turunan terus, sedangkan si Jagur rem belakangnya juga agak blong. Gue gak mau nambah prestasi nyugsep untuk yang kesekian kalinya. 🙁  Pesan moralnya adalah (((Pesan moral))) selalu cek kendaraan sebelum bepergian, khususnya buat para bro-tomotif dan sis-tomotif dimanapun kalian berada. Karena nyungsep terjadi bukan karena hanya ada niat, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah!

Beginilah kira-kira keadaan Gunung Andong dilihat dari kaki gunung. Keliatannya juga memang gak terlalu tinggi sih, itu sebabnya salah satu temen gue, sebut saja bunga, bunga kaktus yang badannya paling subur dengan bobot 95Kg ikutan juga pengen naik. Dia optimis banget bisa sampai ke puncaknya tanpa persiapan fisik dan hanya mengandalkan minuman suplemen favorit supir truk pasir pantura (semacam kratingdaeng), supaya kuat. Katanya. Ini dia penampakannya :

Setelah istirahat sejenak di pos penitipan dan melakukan Do’a bersama sebelum perjalanan mendaki puncak dimulai, akhirnya kita mulai melakukan perjalanan. Sayang udaranya nyengat banget, sepertinya kita naik terlalu siang, sekitar jam 11 waktu itu. Tapi panas kami lumayan terbayarkan, pemandangan sekitar jalan penanjakan lumayan seger dan keren.

FYI, temen gue si bunga kaktus tadi ternyata gak kuat nanjak. Baru beberapa meter dia sudah tumbang ambruk bak paus terdampar di laut selatan. Jalannya sempoyongan seakan-akan meminggul beban berat dan tak sanggup lagi menopang besarnya penderitaan duniawi. Sayang gak sempet gue foto, soalnya kami bersama beberapa team sibuk mengevakuasi si bunga kaktus, mulai dari memberikan obat sampai nganterin dia ke pos penjagaan tadi buat istirahat. Usut punya usut ternyata dia masuk angin, kayaknya belum makan makanan berat, tapi udah minum minuman suplemen supir. (((Pesan Moral))) Katanya sih, katanya. Kalau jalan-jalan yang lumayan make fisik kayak naik gunung itu stamina harus fit, terus persiapan jasmaninya juga harus diperhatikan. Jangan maksain kalau gak kuat.

Yak! Akhirnya kami hampir menuju puncak dengan estimasi waktu sekitar 2 jam dengan break atau istirahat beberapa kali. Sambil beristirahat sesekali kami memandangi pemandangan di bawah sana untuk mengobati rasa lelah kami. Kami tak sendiri, ternyata banyak juga rombongan lain yang turun gunung. Mungkin mereka menginap diatas puncak sana dan baru melakukan turun gunung pada siangnya. Wah, kami jadi tambah semangat untuk menuju puncak! Gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa, Menuju puncak! Impian di hati bersatu janji, kawan sejati. Pasti berjaya di akademi fantasiiiiii~

Inilah puncak Gunung Andong. Eiits, jangan heran. Memang puncaknya gak seluas gunung-gunung lain. Soalnya ini gunung termasuk gunung medium yang mempunyai ketinggian sekitar 1,5Km. Jadi, ya ekspekstasinya jangan berlebihan bakalan nemuin pemandangan kayak di film 5cm, jauh bray perbandingannya. Walaupun demikian alam tetaplah alam. Bagi gue Pecinta Alam itu bukan orang yang sering melakukan pendakian ke gunung-gunung tinggi, bukan juga orang yang sering berwisata ke alam-alam baka, maksud gue alam bebas. Lebih jauh pecinta Alam adalah mereka yang sayang lingkungan, buang sampah gak sembarangan, menggunakan kendaraan ramah lingkungan dan tindakan-tindakan terpuji lainnya yang bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Karena alam itu bukan hanya hutan, alam bukan hanya gunung, alam bukan hanya tentang keindahan pemandangan alam bebas. Alam adalah dimana kita menghirup dan menghembuskan napas, dan bentuk kecintaannya dengan menjaga kemurnian dan kebersihan dimana kita menghirup udara tersebut. Dan untuk memupuk itu semua salah satunya men-tafakuri bagaimana alam yang indah sesungguhnya, dengan mengunjungi alam bebas. Setuju ? Jadi, menikmati indahnya alam hanyalah bagian dari proses mencintai alam. “Bukankah cinta tidak hanya tentang fisik semata, bukankah cinta dilakukan lewat pembuktian ?” -Quote pasaran. Adapun menjadi pecinta alam atau tidak setelahnya, kembali kepada niat masing-masing. Lagi-lagi ini hanyalah simpulan dari sebuah proses.

Di sekeliling puncak gunung Andong kita bisa nikmatin hijaunya hamparan sawah dan luasnya alas bumi dimana biasanya kaki kita dipijakkan. Pernah gak sih kepikiran gini : “Kita yang diatas puncak mengagumi indahnya pemandangan dibawah sana. Sedangkan kita disatu sisi lainnya yaitu ketika dibawah gunung, kita mengagumi indahnya pemandangan diatas puncak sana”. Bagi gue ini perspektif yang menarik, dari posisi manapun kita akan selalu berfikir positif akan hal ini. Kita menilai ketika diatas atau dibawahpun sama-sama merupakan sesuatu yang menarik. Harmonis bukan ? Walaupun tentu kekagumannya berbeda antara yang berada dipuncak dan dibawah puncak. Yang mau gue garis bawahi adalah rasa syukur ketika berada atau pernah dalam posisi keduanya. Ini sebenarnya gambaran, kadang ketika berada dibawah (gue nih paling sering) selalu ngerasa diri paling sial di muka bumi. Kadang kita juga kecewa sama keadaan yang pada akhirnya membutakan rasa syukur kita akan nikmat-nikmat sesungguhnya. Harusnya seperti naik gunung, saat masih dibawahpun kita udah ngerasa senang dan bahagia karena kita yakin akan mencapai puncak dan mendapatkan sesuatu yang berharga diatas sana. Setiap langkah kitapun yakin, dengan kemampuan yang dimiliki dan tekad yang besar bisa mencapai puncak. Adapun tumbang ditengah jalan, anggaplah ini pengalaman. Pun ini harus menjadi suatu kebanggaan, karena setidaknya sudah mencoba. Emang ada bayi normal yang lahir kedunia tiba-tiba udah bisa jalan tanpa terjatuh lebih dahulu ? Intinya bukan ketika di atas atau dibawah kita harus merasa senang, gembira dan bersyukur. Berada di bawah adalah proses menuju atas, kita pasti akan mengalami keduanya atau bahkan hanya tinggal disalah satunya, who knows ? Tinggal pilih dengan perasaan apa kita bakalan menyikapi perjalanannya menuju salah satu titiknya; “kecewa” atau “bahagia”.

 

Related Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *