Artjog 2014 : Kritik Politik Lewat Pesan Visual

20140616203258

Beberapa hari lalu teman-teman di media sosial banyak sekali yang membicarakan artjog, katanya artjog tahun ini masuknya harus pakai tiket yang dibandrol dengan harga Rp. 10.000 untuk setiap kali masuk. Gue sendiri gak terlalu mempermasalahkan harus pakai tiket atau enggak, di artjog 2013 pun sempet berfikir kenapa acara sekeren dan semenarik ini harus gratis. Terlepas dari banyaknya sponsor dan bantuan dana dari beberapa pihak, menurut gue penggunaan tiket ini sebagai bentuk apresiasi saja, toh kebanyakan orang masih memandang sebelah mata seni-seni kontemporer.

“Yang terpenting dari penarikan biaya masuk ini, kita mendidik masyarakat bagaimana meraka menghargai karya dan proses bagaimana karya tersebut disajikan kepada masyarakat,” –Satriagama Rakantaseta, Director Artjog

Tahun ini Artjog sendiri mengambil tema “Legacies of Power” , gak tahu tema ini sudah direncanakan jauh-jauh sebelumnya atau karena momennya bertepatan dengan pesta demokrasi, yang jelas karya-karya yang dipamerkan syarat sekali dengan unsur politik. Jika Anda mampir kesana, akan banyak sekali instalasi seni yang menceritakan tentang hiruk pikuk politik orde baru serta peralihan kekuasaannya lewat konfrontasi fisik dan dengan jalan demokratis. Yang gue tangkep adalah Artjog kali ini mencoba mengangkat isu-isu demokrasi dengan berkaca pada sejarah bagaimana demokrasi tersebut dibentuk hingga seperti sekarang.

Di pintu masuk Anda sudah disuguhkan sebuah instalasi seni dengan nama ‘Kabinet Goni’, dari jauh saja kita sudah faham apa yang mau disampaikan. Media yang dipakai adalah karung Goni, kalau Anda pernah baca Karung Goni ini melambangkan kerakyatan, diceritakan masyarakat Indonesia pada masa penjajahan dulu beberapa membuat pakaian dari karung Goni. Warna jas almamater Universitas Gadjah Mada juga sering juga dikait-kaitkan dengan warna karung Goni, karenanya Universitas Gadjah Mada sering disebut juga sebagai kampus kerakyatan. Namun hal tersebut memang seperti sarkas, disisi lain bentuknya yang tak lazim karena beberapa berkepala binatang serta coretan-coretan aneh yang menggambarkan masing-masing figur. Tapi, kelihatannya hal tersebut memang disengaja. Anda bisa membaca keterangan setiap instalasi seni yang berada disana, seperti pada keterangan Kabinet Goni berikut :

Menyenangkan bukan ? diketerangannya ditulis bahwa Artwork tersebut mengundang Anda untuk merepresentasikannya menjadi sesuatu yang Anda fikirkan tentang figur-figir tersebut, apapun itu. Bahkan seorang anak kecil yang sedang dipangku oleh Ibunya yang kebetulan berdiri dibelakan gue bilang “Mah, kok banyak banget monsternya..“. Entah apa yang difikirkan anak kecil itu, mungkin baginya (atau bagi gue ?) para wakil rakyat yang duduk diparlemen itu monster. 🙂

Setelah asyik lama-lama memandangi instalasi seni tersebut, kamipun bergegas membeli tiket di loket yang telah disediakan. Diluar memang kelihatannya tidak terlalu rame, namun setelah Anda masuk kedalam gedung banyak sekali pengunjung yang memadati tiap sisi ruangan. Gue pikir dengan adanya tiket ini ArtJog ini akan kehilangan beberapa pengunjungnya dan gak serame tahun kemaren. Malah sepertinya tahun ini lebih rame dari tahun sebelumnya, gue ke ArtJog aja di hari-hari terakhir dan di hari senin supaya pengunjungnya sepi dan bukan hari lbur, namun kenyataannya malah sebaliknya. Bisa jadi padatnya pengunjung ini dikarenakan sedang musimnya libur-libur anak sekolah dan beberapa universitas juga udah masuk minggu-minggu tenang sebelum ujian akhir semester. Meskipun demikian, banyaknya pengunjung gak mengurangi antusias kita untuk mengapresiasi karya-karya seni rupa seniman lokal dan mancanegara. Gue hanya menyesalkan sama pengunjung-pengunjung yang berfoto didepan karya seni, menurut gue mengganggu sekali. Masalahnya mereka berfoto (bukan mem-foto karya seninya) didepan karya-karya seni yang ada disana, tentu saja kita menjadi susah untuk melihat karya-karya seni tersebut, meskipun beberapa instalasi seni sengaja dibuat untuk kepentingan berfoto para pengunjung. Namun untuk beberapa spot yang karya seninya untuk dinikmati dengan dipandang dan difikirkan, please ijinkan gue dengan tengan mengapresiasi karya-karya tersebut. Sekali-duakali mungkin wajar, pengen mengabadikan momen ditempat yang jarang sekali mereka temukan, atau sekedar memotret karya seninya aja juga wajar, toh gak menggangu pandangan kita. Tapi jangan berlebihan juga, terlebih lagi banyak pengunjung yang membawa ‘Tongsis’ tongkat narsis yang dipake buat selfie rame-rame sampai para petugaspun tak henti-henti memperingatkan jangan sampai kena pembatas saat berfoto supaya tidak merusak karya seni. Well, itu hak mereka sih. Tujuannya mungkin beda-beda, ada yang memang sebagai bentuk apresiasi atau cuman ajang cari lokasi foto-foto langka, kan kita gak pernah tahu, alih-alih nanti gue malah dibilang sok nge-judge orang lain, lagi musim kan kalimat itu. 🙂

Memang tema ArtJog tahun ini bersinggungan dengan politik, namun beberapa karya seni lainnya juga menampilkan tentang keseharian bahkan beberapa lainnya juga bertemakan tentang cinta namun tetap dengan bumbu politik. Seperti gambar diatas, karya seni ini sepintas membuat gue atau bahkan temen-temen pengunjung lain berfikir “Kok bisa benda kayak ginian dibilang seni..” Namun sekali lagi ini ArtJog, gak mungkin juga seniman memasang ini tanpa alasan atau tanpa menyampaikan pesan kepada para pengunjung. Sialnya lagi, pas udah nyampe kosan gue lupa untuk melihat keterangan disamping karya seni tadi yang membuat penasaran maksud dari karya tersebut. Namun karena ini seni, yang katanya bebas merepresentasikan maknanya, asumsi gue pas lihat karya seni tadi benda-benda tersebut adalah hasil razia pedagang kaki lima atau korban-korban penggusuran. Tapi kalau dilihat-lihat gak mungkin juga toko sebesar strum aki atau toko gitar dagang di emperan -_- Atau mungkin pesan yang mau disampaikan adalah menggambarkan perekonomian masyarakat Indonesia sekarang di negara yang katanya kekayaan alamnya melimpah, atau apalah itu Anda bisa dengan bebas berkesimpulan tentang suatu karya seni.

Kalau yang ini berada didekat pintu masuk, karya seni ini bernama “No One Escape the Death I Ride”. Diketerangan ditulis sosok tersebut adalah Bima yang gugur dalam perang Bharatayhuda dalam mitologi pewayangan. Saat Bima yang sakti mandraguna dikalahkan oleh seorang wanita yaitu Srikandi yang telah dimasuki arwah dewi Amba. Dia terkulai lemah dan menerima takdir kematiannya, menggambarkan keheningan dan kematian dalam menjemput kematian. Lagi-lagi gue terpancing untuk menafsirkan maksud dari karya seni tersebut, kira-kira apa sih yang mau disampaikan sang seniman terkait perpolitikan di negara kita lewat karyanya. Mungkinkah menggambarkan beberapa pejabat kita yang akhirnya karir politiknya hancur gara-gara wanita serta pasrah dengan hukumannya karena memang merasa bersalah ?

Di ArtJog juga banyak terdapat instalasi seni yang interaktif, membutuhkan kita (pengunjung) sebagai salah satu medianya. Diantaranya seperti sebuah ruangan gelap dengan sedikit cahaya yang bila kita menggerakan tangan maka akan muncul suara tepuk tangan. Jelas sekali maksud yang ingin disampaikan adalah tentang pemerintahan yang otoriter. Atau sebuah ruangan yang berisi beberapa figur kuda pegasus dengan kepala bayi sedang ditunggangi tentara-tentara dan akan bergerak bila kita menginjak pedal yang terdapat disebelahnya. Menggambarkan tentara-tentara utusan sang presiden untuk mengamati keadaan negara pada masa orde baru, dan lain sebagainya. Salah satu yang tak kalah menarik adalah sebuah instalasi seni yang berisi tumpukan berupa pistol yang terbuat dari busa serta sebuah buku catatan. Diketerangan ditulis “Apa yang Anda lakukan bila pistol kerupuk ini menjadi pistol yang sebenarnya ?“, kemudian pengunjung diperbolehkan menulis masing-masing jawaban pada buku tersebut. Yang menjadi perhatian gue adalah jawaban-jawaban yang ditulis pengunjung pada buku tersebut. Bermacam-macam jawaban lucu gue temuin, dari mulai buat ditembakin ke mantan sampai buat nembak pak Jokowi.

Namun sekali lagi, itulah seni. Anda bebas bertafsir, Anda bebas berkesimpulan selama yang kita simpulkan benar-benar dari gagasan sendiri. Disisi lain seni juga membuat kita menjadi begitu lepas dan lebih ekspresif. Bermacam-macam perasaan orang tertulis disana yang sebenarnya bukan hanya sekedar jawaban, beberapa diantaranya adalah gambaran perasaan kesal seseorang terhadap sesuatu. Positifnya, tiap orang yang udah nulis disana abis nulis pasti ketawa atau paling tidak mereka tersenyum. Mereka telah menukar rasa kesal dengan sesuatu yang menyenangkan. Itu baru dari satu karya seni, disana terdapat ratusan karya seni lain yang harusnya bentuk apresiasinya seperti pada karya seni diatas. Namun sesuatu yang gak kita sadari, bahwa karya seni tersebut juga mengandung unsur politik. Senjata selalu dilambangkan sebagai bentuk kekuasaan dan kematian, sederhananya pesan yang mau disampaikan adalah jika Anda punya kekuasaan untuk menghilangkan nyawa seseorang, siapa yang akan Anda lenyapkan. Mungkin kita sudah familiar dengan ungkapan tersebut, kasus hilangnya sebagian aktifis atau jendral-jendral pada masa silam selalu dikaitkan dengan si pemilik kekuasaan tertinggi negara.

Gue gak bisa jelasin satu persatu karya seni apa saja yang terdapat di ArtJog 2014, ada banyak sekali karya seni disana. Bagi Anda yang penasaran mending datang aja mumpung acaranya masih sampai tanggal 22 juni 2014.


Related Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *